SAVIRA TAVANA DEWI

  • Home
    • Version 1
    • Version 2
  • Megamenu
    • Travel
    • Lifestyle
    • Fashion
    • Beauty
  • Travel
    • Travel
  • Features
  • Blog
  • Download

Home Unlabelled Menunggu Hujan Reda

Menunggu Hujan Reda

Savira Tavana Dewi Oktober 12, 2016 0


Matahari mengilang di balik awan. Angin mulai bertiup kencang. Perlahan, setetes demi setetes air mulai berjatuhan. Hujan pun turun. Sebagian orang menepi dan menghentikan aktivitasnya. Jika saja jam perkuliahan tidak menggangu, aku ingin sekali menjadi bagian dari orang-orang itu.
Aku hanya menatap memandangi kerumunan pengendara motor yang sedang berteduh dari jendela kelas. Hujan masih sangat deras. Beberapa anak kecil terlihat sedang bergembira menikmati hujan. Mereka saling memercikkan air yang tergenang dari sebuah kubangan. Terlihat mereka saling tertawa menandakan mereka sangat menyukainya. Entah darimana anak-anak itu datang, padahal tempat ini adalah lingkungan kampus.
Hari ini adalah hari pertamaku di semester tiga. Aku telah menjalani proses yang panjang selama setahun belakangan.Sayangnya, setahun berlalu, aku justru semakin merasa bosan. Aku rasa semua ini terjadi karena aku tidak menyukai kampusku. Aku hanya merasa bosan dengan runtinitas yang biasa-biasa aja. Sayangnya, aku bahkan tidak tau bagaimana caranya menghadapi kejenuhan ini, padahal ini baru tahun keduaku.
Seperti kehidupan mahasiswa pada umumnya, jam kuliah selesai ditandai dengan keluhan mahasiswa. Hari itu, kami semua mendapat tugas kelompok. Tugas itu tidaklah sulit, hanya saja kami semua merasa malas mengerjakannnya.
Tidak seperti biasanya, seusai jam kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah. Hujan masih turun dengan lebat dan aku merasa bosan bosan. Tiba-tiba, aku terpikir untuk mendatangi perpustakaan. Tidak ada acara khusus, aku hanya ingin kesana.
Sesampainya di depan perpustakaan, aku melihat perpustakaan dipenuhi oleh mahasiswa. Melihat itu, aku jadi merasa malah untuk masuk ke dalam. Akhirnya, aku memutuskan untuk duduk-duduk saja di depan perpustakaan
Baru saja aku meletakkan tas dihadapanku, seorang anak berkebutuhan khusus melintas dihadapanku. Kampus ini memang menyediakan program kuliah untuk anak disabelitas. Aku sering sekali melihat mereka, namun sekali pun aku belum pernah berinteraksi dengan mereka.
Saat itu, entah kenapa aku sangat ingin memperhatikan mereka. Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Aku ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sayangnya, tempat mereka duduk terlalu jauh untuk bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan, jadi aku hanya bisa memperhatikan gerak-gerik mereka. Sebentar-sebentar mereka terlihat sedang tertawa, lalu berbicara serius dan kemudian tertawa lagi.
Tiba-tiba sekelompok mahasiswa lain menghampiri mereka. Sekelompok mahasiswa itu terlihat mengajak mereka berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, sekelompok mahasiswa itu tertawa dengan sangat keras. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan, namun aku dapat melihat dari rawut wajah mahasiswa berkebutuhan khusus yang terlihat marah dan kesal.
Melihat hal itu, sekolompok mahasiswa tadi terlihat semakin mengejek dan tertawa semakin keras. Mungkin bagi mereka hal ini adalah sebuah lelucon. Aku merasa kasihan melihatnya. Mahasiswa disabilitas itu bahkan tidak melakukan apapun. Sejak tadi, mereka tidak mengusik siapapun. Mereka bahkan cenderung tenang dan tidak membuat keributan seperti mahasiswa lainnya. Mahasiswa berkebutuhan khusus itu tidak melakukan apapun, mereka hanya diam seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Mungkin mereka tidak mengerti bahwa saat itu mereka sedang menjadi bahan tertawaan.
Aku yang melihat dari jauh kejadian itu tidak bisa melakukan apa-apa. Terlalu takut untuk membantu. Sudah puas mencari bahan tertawaan, sekelompok mahasiswa tadi akhirnya pergi. Kulihat hujan pun sudah mulai mereda. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat beranjak pergi, aku sengaja melewati mahasiswa berkebutuhan khusus tadi. Aku sangat penasaan dengan apa yang mereka lakukan.
Saat melintas dibelakang mereka, aku bisa melihat mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Aku pun tertegun, merasa malu dengan apa yang mereka lakukan. Mereka bahkan lebih bersemangat untuk kuliah dan mengerjakan tugas-tugasnya dibandingkan mahasiswa normal lainnya. Banyak orang yang bilang turunnya hujan justru akan mengingatkan masa lalu, tapi tidak dengan hari itu. Hari itu hujan memberikan sebuah pelajaran yang berharga. Aku bersedia hujan turun lagi. Mungkin di lain waktu, hujan bersedia datang lagi dengan membawa pelajaran lainnya.
Share:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Designed by OddThemes

About Author

I'm Susanna, I blog about travel.

This season, the American designer will showcase a series of historic objects from the New York museum's.

Stay Connected

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
Savira Tavana Dewi
Lihat profil lengkapku

Terjebak di 4.30 PM

Sepertinya hari ini bumi sedang bersedih. Sejak pagi, matahari terus saja bersembunyi di balik awan gelap dan tetesan air hujan senanti...

Total Tayangan Halaman

Footer Menu Widget

  • Home
  • About Us
  • Contact Us
  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _Shortcodes
  • _Sitemap
  • _Error Page
  • Documentation
  • _Web Doc
  • _Video Doc
  • Download This Template

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2022 (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  April (2)
  • ▼  2016 (4)
    • ▼  Oktober (3)
      • Media Sosial dan Anak Gaul Kekinian
      • Menunggu Hujan Reda
      • Aku Tidak Ingin Mati Sendiri
    • ►  September (1)
  • Beranda

Subscribe Us

Most Popular