Matahari
mengilang di balik awan. Angin mulai bertiup kencang. Perlahan, setetes demi
setetes air mulai berjatuhan. Hujan pun turun. Sebagian orang menepi dan menghentikan
aktivitasnya. Jika saja jam perkuliahan tidak menggangu, aku ingin sekali
menjadi bagian dari orang-orang itu.
Aku hanya menatap memandangi kerumunan pengendara motor yang
sedang berteduh dari jendela kelas. Hujan masih sangat deras. Beberapa anak
kecil terlihat sedang bergembira menikmati hujan. Mereka saling memercikkan air
yang tergenang dari sebuah kubangan. Terlihat mereka saling tertawa menandakan
mereka sangat menyukainya. Entah darimana anak-anak itu datang, padahal tempat
ini adalah lingkungan kampus.
Hari
ini adalah hari pertamaku di semester tiga. Aku telah menjalani proses yang panjang
selama setahun belakangan.Sayangnya, setahun berlalu, aku justru semakin merasa
bosan. Aku rasa semua ini terjadi karena aku tidak menyukai kampusku. Aku hanya
merasa bosan dengan runtinitas yang biasa-biasa aja. Sayangnya, aku bahkan
tidak tau bagaimana caranya menghadapi kejenuhan ini, padahal ini baru tahun
keduaku.
Seperti
kehidupan mahasiswa pada umumnya, jam kuliah selesai ditandai dengan keluhan
mahasiswa. Hari itu, kami semua mendapat tugas kelompok. Tugas itu tidaklah
sulit, hanya saja kami semua merasa malas mengerjakannnya.
Tidak
seperti biasanya, seusai jam kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah. Hujan
masih turun dengan lebat dan aku merasa bosan bosan. Tiba-tiba, aku terpikir
untuk mendatangi perpustakaan. Tidak ada acara khusus, aku hanya ingin kesana.
Sesampainya
di depan perpustakaan, aku melihat perpustakaan dipenuhi oleh mahasiswa.
Melihat itu, aku jadi merasa malah untuk masuk ke dalam. Akhirnya, aku
memutuskan untuk duduk-duduk saja di depan perpustakaan
Baru
saja aku meletakkan tas dihadapanku, seorang anak berkebutuhan khusus melintas
dihadapanku. Kampus ini memang menyediakan program kuliah untuk anak
disabelitas. Aku sering sekali melihat mereka, namun sekali pun aku belum
pernah berinteraksi dengan mereka.
Saat
itu, entah kenapa aku sangat ingin memperhatikan mereka. Tiba-tiba saja aku
merasa tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Aku ingin mendengarkan apa yang
mereka bicarakan. Sayangnya, tempat mereka duduk terlalu jauh untuk bisa
mendengarkan apa yang mereka bicarakan, jadi aku hanya bisa memperhatikan
gerak-gerik mereka. Sebentar-sebentar mereka terlihat sedang tertawa, lalu
berbicara serius dan kemudian tertawa lagi.
Tiba-tiba
sekelompok mahasiswa lain menghampiri mereka. Sekelompok mahasiswa itu terlihat
mengajak mereka berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian,
sekelompok mahasiswa itu tertawa dengan sangat keras. Aku tidak tahu apa yang
sedang mereka tertawakan, namun aku dapat melihat dari rawut wajah mahasiswa
berkebutuhan khusus yang terlihat marah dan kesal.
Melihat
hal itu, sekolompok mahasiswa tadi terlihat semakin mengejek dan tertawa
semakin keras. Mungkin bagi mereka hal ini adalah sebuah lelucon. Aku merasa
kasihan melihatnya. Mahasiswa disabilitas itu bahkan tidak melakukan apapun.
Sejak tadi, mereka tidak mengusik siapapun. Mereka bahkan cenderung tenang dan
tidak membuat keributan seperti mahasiswa lainnya. Mahasiswa berkebutuhan
khusus itu tidak melakukan apapun, mereka hanya diam seolah tidak peduli dengan
apa yang terjadi disekitarnya. Mungkin mereka tidak mengerti bahwa saat itu
mereka sedang menjadi bahan tertawaan.
Aku
yang melihat dari jauh kejadian itu tidak bisa melakukan apa-apa. Terlalu takut
untuk membantu. Sudah puas mencari bahan tertawaan, sekelompok mahasiswa tadi
akhirnya pergi. Kulihat hujan pun sudah mulai mereda. Aku memutuskan untuk
pulang ke rumah. Saat beranjak pergi, aku sengaja melewati mahasiswa
berkebutuhan khusus tadi. Aku sangat penasaan dengan apa yang mereka lakukan.
Saat
melintas dibelakang mereka, aku bisa melihat mereka sedang mengerjakan tugas
kuliah. Aku pun tertegun, merasa malu dengan apa yang mereka lakukan. Mereka
bahkan lebih bersemangat untuk kuliah dan mengerjakan tugas-tugasnya
dibandingkan mahasiswa normal lainnya. Banyak orang yang bilang turunnya hujan
justru akan mengingatkan masa lalu, tapi tidak dengan hari itu. Hari itu hujan memberikan
sebuah pelajaran yang berharga. Aku bersedia hujan turun lagi. Mungkin di lain
waktu, hujan bersedia datang lagi dengan membawa pelajaran lainnya.

