Aku punya obsesi yang benar-benar
ganjil. Obsesi pada dunia teka-teki. Aku bahkan tidak bisa menyingkirkan
pikiran itu dari dalam benakku. Berpikir bahwa semua hal dimuka bumi ini adalah
teka-teki. Entah siapa yang membuatnya, aku hanya ingin terus bermain.
Seminggu yang lalu, aku dan
keluargaku sibuk memindahkan barang kami dari rumah lama. Aku ikut membantu ibu
mengangkat beberapa barang yang ringan ke atas mobil pick-up. Aku dan
keluargaku akan pindah ke sebuah kompleks perumahan yang tidak jauh dari rumah
lamaku.
Di lingkungan rumah baruku, banyak
sekali anak yang usianya sama dengan usiaku. Ini akan memudahkanku untuk
mencari teman. Teman untuk bermain teka-teki.
Setiap hari sepulang sekolah, aku
selalu bermain di luar rumah bersama teman baruku. Kami akan berhenti bermain
sampai kakak atau ibuku pulang ke rumah. Kakakku biasanya pulang ke rumah pada
sore hari dan ibu pulang dari tempat kerja saat sudah menjelang larut malam.
Sebenarnya aku bosan dengan rutinitas ini. Aku ingin bermain sesuatu yang
menantang.
Hari itu, aku mengajak teman-teman
bermain. Seperti biasa, aku membuat permainan yang berhubungan dengan
teka-teki. Aku katakan pada mereka bahwa ada ruangan rahasia di dalam rumahku.
Ruang rahasia yang bisa terhubung ke tempat yang sangat indah seperti di surga.
Agar kami dapat terhubung ke ruang rahasia itu, kami harus menemukan sebuah
kunci yang tersembunyi di dalam ruangan rahasia.
Peraturan permainanya, kami harus
masuk satu per satu ke dalam ruangan lalu mulai mencari kuncinya. Siapa saja
yang berhasil menemukan kuncinya, akan menjadi pemenangnya.
Sayangnya, sekali masuk ke dalam
ruangan rahasia, maka tidak akan bisa keluar lagi. Pintu ruangan rahasia hanya
bisa dibuka dari luar.
Satu per satu dari kami pun masuk ke
dalam ruang rahasia. Teman-temanku sangat antusias mencari kunci agar bisa
terhubung ke tempat yang indah itu.
Lama kelamaan, kami mulai lelah
mencari. Kuncinya tidak berhasil kami temukan. Alhasil, kami semua terkurung di
dalam ruangan rahasia tanpa ada seorang pun yang tahu.
Aku tersenyum puas. Aku menyelasaikan
permainan dengan baik. Begitu hati-hati, rapi, dan tersusun dengan baik,
kemudian pura-pura tidak tahu apa-apa. Kunci pintu rahasia itu tidak pernah
ada. Aku hanya ingin memiliki teman yang bisa menemaniku di dalam ruangan ini.
Lagipula, siapa yang ingin mati sendirian?

