"Pembeli jadi tau kalo ayam ini masih segar,
makanya dipotong dan dibersihin di depan pembeli pas ada yang mau beli," Jamal (34)
Tempat ini
letaknya tidak jauh dari jalan raya yang biasa dilewati orang-orang. Saat
matahari hendak bersiap-siap untuk menampakan dirinya, tempat ini justru sudah
siap dan mulai didominasi oleh wanita muda bahkan paruh baya. Semua orang sibuk
bertanya, menawar, dan menetapkan harga.
Pasar Timbul
letaknya memang agak jauh dari pusat Ibu Kota dan lebih dekat ke kawasan Depok.
Sekilas, pasar ini nampak tidak menarik dan biasa saja seperti pasar pada
umumnya. Namun jika diteliti lebih dalam, pengunjung dan pembeli dapat
menemukan hal menarik dari pasar ini.
Pasar tradisional
yang terletak di Jl. Moh Kahfi 1 ini memiliki penjual ayam yang ayamnya dijual
dalam keadaan hidup. Penjual ayam ini sudah berjualan sejak 2010. Pembeli bisa
mendapatkan ayam yang baru keluar dari kandang dan masih segar.
Pembeli juga bisa
melihat proses pemotongan ayam. Mereka berpendapat, bahwa ayam disana segar dan
dapat dibersihkan kembali setelah sampai dirumah.
Awalnya ayam
disembelih seperti biasa, setelah itu dimasukkan ke dalam air panas. Saat
dikeluarkan, ayam tersebut sudah dalam keadaan bersih dan siap dimasak. Proses
unik inilah yang membuat para pembeli tertarik untuk membeli ayam disini,
“Pembeli jadi tau
kalo ayam ini masih seger, makanya dipotong dan dibersihin di depan pembeli pas
ada yang mau beli,” ujar Jamal (34) yang saat itu sedang membersihkan ayam.
Setiap harinya,
ayam yang laku terjual berkisar 100 ekor. Jika ada hari-hari besar, ayam yang
terjual bisa mencapai tiga kali lipatnya. Ayam-ayam ini dijual sesuai dengan
ukurannya. Jika ukurannya lebih besar, maka semakin mahal pula harga ayam
tersebut.
Aktivitas pasar
tradisional ini akan berhenti ketika waktu sudah menunjukan pukul sembilan
malam. Dibalik pasar tradisional yang sering dikeluhkan karena kotor dan
terlalu banyak preman-preman nakal, sejatinya pasar tradisional tetap ada
dihati masyarakat. Keunikan dan kekeluargaan yang terjalin antara pembeli dan
penjual di pasar tradisonal membuat pembelinya ingin kembali lagi dan selalu
teringat pada pasar yang tak pernah sepi pengunjung ini.

