Matahari mulai bergeser ke arah barat. Senja mulai datang untuk menyambut malam. Lama-kelamaan, matahari mulai menghilang dan bergantikan malam yang gelap dan pekat. Dengan raut wajah yang lelah, ia membuka pintu dan mengucapkan salam. Menaruh tas dan seluruh dokumen yang ia bawa. Terdengar jelas helaan napasnya. Mungkin ia berharap masalah hari itu akan hilang begitu saja.
Usianya sudah
hampir setengah abad. Namun, ia masih semangat bekerja. Tidak ada satu keluhan
pun yang keluar dari bibirnya. Ia selalu berusaha dan berusaha agar dapat
memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Dia juga rela melakukan apa saja. Dia
adalah seseorang yang disebut, Ayah.
Hari-harinya
selalu dipenuhi masalah. Tapi, dia selalu rela mendengarkan seluruh keluhan
anaknya yang tak seberapa. Ia selalu menjadi pendengar yang baik. Tidak pernah
mencela, tidak pernah memotong pembicaraan. Hanya menjadi pendengar dan
memberikan pendapatnya.
Sudah setahun
belakangan ia harus pindah ke luar Jakarta. Hal ini membuatnya sedih karena hal
tersebut membuat ia dan keluargannya berjauhan. Tapi mau bagaimana lagi, hal
ini sudah menjadi konsekuensi dari pekerjaan yang harus dia terima. Toh, hanya
jarak yang memisahkan ia dari keluargannya.
Dia akan pulang ke
rumah sekitar satu bulan atau dua bulan sekali. Tergantung kesibukan yang
sedang ia hadapi. Sebuah ketakutan terbesit dibenak keluarganya. Takut kalau
hal yang tidak diinginkan terjadi dan tidak bisa membantu saat ia butuh
pertolongan.
Ketakutan itu
ternyata benar. Senin pagi, ayah masuk ruang ICU. Ia terkena serangan jantung.
Entah bagaimana keadaanya saat itu. Tidak ada yang bisa menolong selain berdoa
dan berharap ia akan baik-baik saja.
Selang beberapa
jam, ia masih harus berada di ruang ICU dan harus menunggu keputusan dokter
mengenai jantungnya. Sayangnya, hasil keputusan dokter tidak bisa didapat pada
hari itu juga. Ia dan keluargannya harus menunggu dua atau tiga hari lagi.
Setelah menunggu
keputusan yang cukup lama, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan
operasi padanya. Penyempitan yang terjadi di jantungnya sudah sangat parah.
Pemasangan ring pada jantungnya merupakan solusi terbaik. Dokter memutuskan
untuk melakukan tindakan operasi pada malam itu juga.
Peristiwa itu
menyadarkan keluargannya. Membuat anak-anaknya tersadar betapa pentingnya dia
bagi anak-anaknya. Merelakan hari liburnya, kurang tidur, kelelahan, bahkan
sakit hanyalah sebagian kecil pengorbanan yang ia lakukan. Pengorbanan dan
kerja kerasnya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.
Ia adalah
seseorang yang dikirim Tuhan untuk menaungi keluarganya. Harapan yang ia
katakan pada anak-anaknya sangatlah sederhana. Berharap suatu hari nanti
anak-anaknya bisa menjadi seseorang yang lebih baik darinya.
Ayah tidak banyak
menuntut apapun. Ia melebihi definisi dari kata sempurna. Ia sederhana tapi
pengorbanannya istimewa. Ia adalah manusia yang rela. Rela, bertarung sampai
mati demi nafas bahagia keluarganya.

