Sebenarnya, ini bukan toko buku biasa yang menjual buku-buku bagus yang dibungkus plastik. Hanya toko buku sederhana yang menjual buku-buku bekas dan murah. Orang-orang bisa lewat begitu saja sambil melihat buku-buku tersebut. Tak heran, jika terkadang mereka pergi tanpa membayar.
Belakangan ini aku melihat ada satu pelanggan yang bertambah. Hampir setiap hari, ada laki-laki yang sering kali memakai kaos yang ditutupi kemeja flanel dan sepatu kets datang ke tempat ini. Akhir-akhir ini pula lah kami harus berbagi tempat kosong di toko buku tersebut. Toko buku yang kira-kira ukurannya hanya sepetak. Kami pun tak sengaja sering berhimpitan ataupun tersenggol lengan.
Tiba-tiba saja mataku terpaku pada sesosok laki-laki
tersebut. Ia berjalan menghampiri salah satu tumpukan buku disudut ruangan.
Hingga mata kami terpaku satu sama lain. Beberapa detik. Sesegera mungkin ku
alihkan pandangku ke buku yang sudah ku baca dan menghela nafas yang tanpa
sadar ku tahan.
*
Menit berganti jam, dan jam pun berganti hari, hingga kini
aku sedang berlari kecil mengejar waktu keterlambatanku untuk memasuki kelasku
pagi ini. Aku berlari, dan terus berlari hingga bahuku tak sengaja menabrak
bahu seseorang. Ku tolehkan wajahku ke samping, bermaksud melihat siapa orang
tak berdosa yang telah ku tabrak ini. Lagi-lagi aku menahan hembusan nafas
ketika melihat sesosok laki-laki asing namun pernah kulihat ini, kini ia
berdiri menjulang tinggi dengan kemeja kotak-kotak berwarna birunya, ku turunkan
penglihatanku, ia memakai celana abu-abu dan sepatu kets yang sepertinya juga
pernah kulihat dalam beberapa waktu lalu.
"Ehem." Ku dongakkan kepalaku ketika ia
berdehem kepadaku.
"Hmm, maaf ya", setelah
ku ucapkan sebait kata itu dan aku langsung berlari berburu waktu untuk masuk
ke kelas pagi ini.
*
Kini aku berdiri di sebuah halte, meneduh hujan yang kian menderas tepat pada
saat jam pulang sekolah, ku usapkan kedua lenganku dengan telapak tanganku yang
dingin hingga tiba-tiba terlihat sebuah motor sport putih dan berhenti di depan
halte ini. Aku terdiam melihat siapa yang akan menemaniku dalam keheningan ini,
hingga lagi dan lagi ku tahan nafasku ini ketika tahu siapa orang tersebut.
"Ini konyol, dia lagi. Permainan macam apa
ini." Ucapku dalam hati ketika ku perhatikan ia yang sedang membuka helm
dan dapat ku lihat ia sama terkejutnya denganku tapi kembali wajahnya berubah
datar.
"Kau percaya takdir?" Ucap ia membuka
pembicaraan denganku. Ku tengadahkan kepalaku melihat ke arahnya dan
mengernyitkan alisku bermaksud bertanya apakah ia berbicara denganku. Hingga
wajahnya menatapku dengan datar berusaha menjawab mimik mukaku.
"Tidak. Sama sekali tidak." Jawabku dengan tegas dan meyakinkan.
"Bagus. Aku pun sama. Tapi lihatlah keadaan
kita, kita telah bertemu sebanyak 3 kali dan tanpa disengaja. Menurut roman
picisan ini disebut takdir. Ini lucu sekali."
Aku terdiam mendengarnya. Tersenyum kecil dan
menjawabnya "Ini bukan takdir, ini hanya sekedar peluang yang muncul
beberapa kali. Ini seperti sistem matematika, tidak ada sangkut pautnya dengan
takdir."
"Ya, mungkin. Namaku, Vito"
"Aku Katya. Kita berteman sekarang?"
"Ya. Teman." Ujarnya
Untuk pertama kalinya, hari itu ia menyapaku. Ia
bercerita banyak hal tentang dirinya. Aku lebih banyak tersenyum mendengar
ceritanya. Dia juga lebih banyak tertawa dari orang-orang yang kukenal. Setiap
ia tertawa, ada sesuatu yang selalu membuatku ikut tertawa saat melihatnya.
Hujan pun mulai reda, kami akhirnya memutuskan untuk
pulang. Mengucapkan salam perpisahan, sambil berharap akan bertemu lagi.
*
Keesokan harinya, aku bergegas menuju toko buku yang
selalu kudatangi. Aku suka tempat itu. Tempat sepi yang dipenuhi dengan
bertumpuk-tumpuk novel yang bisa kubaca secara gratis.
Saat tengah asik membaca, tiba-tiba saja seseorang
menepuk pundakku dan tersenyum. Ya, itu Vito. Dia lalu pergi ketempat tumpukan
buku disudut ruangan dan membacanya. Tiba-tiba saja, lagi dan lagi ia menepuk
pundakku dan berkata “Bagaimana jika besok pergi ke sesuatu tempat selain toko
buku ini?”. Aku hanya diam dan menatapnya bingung. Ia lalu tertawa. “Besok pagi
aku tunggu disini.” Katanya sambil berlalu pergi.
*
Hari itu, akhirnya kami pergi ke suatu tempat selain
toko buku. Hari itu juga, kami kehujanan. Ia menarik tanganku dan menyuruh aku
mengikutinya. Kami mencari tempat untuk berteduh. Ia membawaku menuju halte
bus. Tiba-tiba saja bus yang jurusannya aku tidak tahu kemana, berhenti di
depan kami. Vito langsung menarik tanganku dan bergegas naik kedalam bus
tersebut.
“Memangnya kita mau kemana?” Tanyaku.
Dia hanya tertawa sambil mengangkat bahu. Ia juga
tidak tahu akan mengajakku kemana. “Kita berpetualang saja, pasti seru.”
Jawabnya.
“Berpetualang atau tersesat?” Tanyaku sambil tertawa.
“Bukankah tersesat itu sama saja bagian dari berpetualang?”
Katanya.
Aku heran dengan pola pikirnya. Aku diam dan
memikirkan jawabanya. Menurutnya tersesat adalah bagian dari berpetualang. Aku
tidak suka tersesat. Tersesat sering menimbulkan perasaan kebingungan seperti
orang bodoh. Tersesat dalam hidup adalah pengalaman yang serupa. Harusnya
berpetualang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Entahlah, ku pikir dia lebih
mengerti tentang arti petualangan.
“Ada sesuatu yang menyenangkan dari berpetualang dan
tersesat. Kita akan memiliki banyak pengalaman. Lagipula, akan lebih seru jika
kita tidak mengetahui kemana kita akan pergi.” Katanya tiba-tiba, sepertinya ia
mengerti dengan kebingunganku.
Hari itu, menjadi hari yang panjang dan
menyenangkan. Ia mengajakku ketempat yang belum pernah aku kunjungi. Tempat
yang mungkin memiliki banyak arti baginya.
Waktu terus bergulir, tanpa sadar
kami sudah sangat dekat. Tertawa, bercanda, dan perayaan ulang tahun yang sudah
kami lewati bersama. Hingga akhirnya aku bertanya padanya.
"Apa sekarang kamu sudah
percaya cinta?." Tanyaku
"Kamu sendiri bagaimana? Apa deskripsimu
tentang cinta? Apakah tentang jantung yang berdetak dengan kencang? Apakah
tentang pipi yang bersemu merah? Atau tentang kamu yang selalu tersenyum ketika
melihatnya?" Katanya tegas.
"Iya, buatku iya. Jantung yang
berdetak lebih keras ketika menatap matanya. Pipi yang terasa panas jika ia
berbalik menatap mataku dan aku selalu tersenyum ketika bertemu dia."
Ucapku menatapnya dengan dalam dengan senyum terukir manis disudut bibirku.
"Kamu tau? Tadinya aku juga
tidak percaya cinta. Tapi aku bertemu dia, aku berpikir ini tidak mungkin, tapi
ini kenyatanya. Aku jatuh cinta." Lagi, aku tersenyum padanya dengan
menatap dalam padanya berusaha menyampaikan apa yang aku rasakan.
"Aku tidak tahu dengan
pengertian cinta. Buatku, cinta itu cuma rasa nyaman. Karena aku juga sama
denganmu, aku sedang jatuh cinta. Tanpa sadar perasaan ini datang tanpa
bisa aku cegah. Dan aku
menyukainya." Ucap dia dengan mantap, dan mata kami saling berpandangan
dengan waktu yang lama dan hadirlah sebuah senyuman di bibir kami.
Sejak hari itu, kami selalu
bersama-sama. Entah hanya sekedar untuk menghabiskan waktu bersama di toko
buku, atau hanya sekedar mengobrol soal kegiatan sehari-hari. Ia adalah seseorang
yang menyenangkan.
*
Aku lari tergesa-gesa mengejar waktu
untuk mencari seseorang yang sekarang ada di dalam hari-hariku, yang selalu
hadir dimana saja. Aku melihatnya, ya aku melihatnya sedang berdiri menyandar di tembok penyangga. Aku berlari menuju orang itu.
"Kau
tau? Aku sudah menemukan arti dari apa itu cinta dan sekarang aku tahu, aku mencintaimu."
"Aku
juga mencintaimu Katya."
"Terima
kasih telah mencintaiku, Evan." Kataku dengan lantang.
Ya, aku beruntung. Karena sekarang aku tau apa makna
dari cinta. Aku tak perlu bertanya lagi pada Vito, karena sekarang aku akan
mencari jawaban atas pertanyaanku ini. Apakah kalian terkejut mengetahuinya?
Selamat memasuki kisah cintaku yang penuh analogi ini.

