SAVIRA TAVANA DEWI

  • Home
    • Version 1
    • Version 2
  • Megamenu
    • Travel
    • Lifestyle
    • Fashion
    • Beauty
  • Travel
    • Travel
  • Features
  • Blog
  • Download

Home Unlabelled Analogi Katya

Analogi Katya

Savira Tavana Dewi Januari 29, 2018 0

            Detik jam berdenting tepat pada porosnya, mengukir waktu tanpa henti, menemaniku dalam keheningan toko buku. Suara dari terbaliknya lembar kertas silih berganti terdengar dalam pendengaranku.
            Sebenarnya, ini bukan toko buku biasa yang menjual buku-buku bagus yang dibungkus plastik. Hanya toko buku sederhana yang menjual buku-buku bekas dan murah. Orang-orang bisa lewat begitu saja sambil melihat buku-buku tersebut. Tak heran, jika terkadang mereka pergi tanpa membayar.
             Belakangan ini aku melihat ada satu pelanggan yang bertambah. Hampir setiap hari, ada laki-laki yang sering kali memakai kaos yang ditutupi kemeja flanel dan sepatu kets datang ke tempat ini. Akhir-akhir ini pula lah kami harus berbagi tempat kosong di toko buku tersebut. Toko buku yang kira-kira ukurannya hanya sepetak. Kami pun tak sengaja sering berhimpitan ataupun tersenggol lengan.
Tiba-tiba saja mataku terpaku pada sesosok laki-laki tersebut. Ia berjalan menghampiri salah satu tumpukan buku disudut ruangan. Hingga mata kami terpaku satu sama lain. Beberapa detik. Sesegera mungkin ku alihkan pandangku ke buku yang sudah ku baca dan menghela nafas yang tanpa sadar ku tahan.
*
Menit berganti jam, dan jam pun berganti hari, hingga kini aku sedang berlari kecil mengejar waktu keterlambatanku untuk memasuki kelasku pagi ini. Aku berlari, dan terus berlari hingga bahuku tak sengaja menabrak bahu seseorang. Ku tolehkan wajahku ke samping, bermaksud melihat siapa orang tak berdosa yang telah ku tabrak ini. Lagi-lagi aku menahan hembusan nafas ketika melihat sesosok laki-laki asing namun pernah kulihat ini, kini ia berdiri menjulang tinggi dengan kemeja kotak-kotak berwarna birunya, ku turunkan penglihatanku, ia memakai celana abu-abu dan sepatu kets yang sepertinya juga pernah kulihat dalam beberapa waktu lalu.
"Ehem." Ku dongakkan kepalaku ketika ia berdehem kepadaku.
"Hmm, maaf ya", setelah ku ucapkan sebait kata itu dan aku langsung berlari berburu waktu untuk masuk ke kelas pagi ini.
*  
Kini aku berdiri di sebuah halte, meneduh hujan yang kian menderas tepat pada saat jam pulang sekolah, ku usapkan kedua lenganku dengan telapak tanganku yang dingin hingga tiba-tiba terlihat sebuah motor sport putih dan berhenti di depan halte ini. Aku terdiam melihat siapa yang akan menemaniku dalam keheningan ini, hingga lagi dan lagi ku tahan nafasku ini ketika tahu siapa orang tersebut.
"Ini konyol, dia lagi. Permainan macam apa ini." Ucapku dalam hati ketika ku perhatikan ia yang sedang membuka helm dan dapat ku lihat ia sama terkejutnya denganku tapi kembali wajahnya berubah datar.
"Kau percaya takdir?" Ucap ia membuka pembicaraan denganku. Ku tengadahkan kepalaku melihat ke arahnya dan mengernyitkan alisku bermaksud bertanya apakah ia berbicara denganku. Hingga wajahnya menatapku dengan datar berusaha menjawab mimik mukaku.
"Tidak. Sama sekali tidak." Jawabku dengan tegas dan meyakinkan.
"Bagus. Aku pun sama. Tapi lihatlah keadaan kita, kita telah bertemu sebanyak 3 kali dan tanpa disengaja. Menurut roman picisan ini disebut takdir. Ini lucu sekali."
Aku terdiam mendengarnya. Tersenyum kecil dan menjawabnya "Ini bukan takdir, ini hanya sekedar peluang yang muncul beberapa kali. Ini seperti sistem matematika, tidak ada sangkut pautnya dengan takdir."
"Ya, mungkin. Namaku, Vito"
"Aku Katya. Kita berteman sekarang?"
"Ya. Teman." Ujarnya
Untuk pertama kalinya, hari itu ia menyapaku. Ia bercerita banyak hal tentang dirinya. Aku lebih banyak tersenyum mendengar ceritanya. Dia juga lebih banyak tertawa dari orang-orang yang kukenal. Setiap ia tertawa, ada sesuatu yang selalu membuatku ikut tertawa saat melihatnya.
Hujan pun mulai reda, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Mengucapkan salam perpisahan, sambil berharap akan bertemu lagi.
*  
Keesokan harinya, aku bergegas menuju toko buku yang selalu kudatangi. Aku suka tempat itu. Tempat sepi yang dipenuhi dengan bertumpuk-tumpuk novel yang bisa kubaca secara gratis.
Saat tengah asik membaca, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dan tersenyum. Ya, itu Vito. Dia lalu pergi ketempat tumpukan buku disudut ruangan dan membacanya. Tiba-tiba saja, lagi dan lagi ia menepuk pundakku dan berkata “Bagaimana jika besok pergi ke sesuatu tempat selain toko buku ini?”. Aku hanya diam dan menatapnya bingung. Ia lalu tertawa. “Besok pagi aku tunggu disini.” Katanya sambil berlalu pergi.
*  
Hari itu, akhirnya kami pergi ke suatu tempat selain toko buku. Hari itu juga, kami kehujanan. Ia menarik tanganku dan menyuruh aku mengikutinya. Kami mencari tempat untuk berteduh. Ia membawaku menuju halte bus. Tiba-tiba saja bus yang jurusannya aku tidak tahu kemana, berhenti di depan kami. Vito langsung menarik tanganku dan bergegas naik kedalam bus tersebut.
“Memangnya kita mau kemana?” Tanyaku.
Dia hanya tertawa sambil mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu akan mengajakku kemana. “Kita berpetualang saja, pasti seru.” Jawabnya.
“Berpetualang atau tersesat?” Tanyaku sambil tertawa.
“Bukankah tersesat itu sama saja bagian dari berpetualang?” Katanya.
Aku heran dengan pola pikirnya. Aku diam dan memikirkan jawabanya. Menurutnya tersesat adalah bagian dari berpetualang. Aku tidak suka tersesat. Tersesat sering menimbulkan perasaan kebingungan seperti orang bodoh. Tersesat dalam hidup adalah pengalaman yang serupa. Harusnya berpetualang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Entahlah, ku pikir dia lebih mengerti tentang arti petualangan.
“Ada sesuatu yang menyenangkan dari berpetualang dan tersesat. Kita akan memiliki banyak pengalaman. Lagipula, akan lebih seru jika kita tidak mengetahui kemana kita akan pergi.” Katanya tiba-tiba, sepertinya ia mengerti dengan kebingunganku.
Hari itu, menjadi hari yang panjang dan menyenangkan. Ia mengajakku ketempat yang belum pernah aku kunjungi. Tempat yang mungkin memiliki banyak arti baginya.
  
            Waktu terus bergulir, tanpa sadar kami sudah sangat dekat. Tertawa, bercanda, dan perayaan ulang tahun yang sudah kami lewati bersama. Hingga akhirnya aku bertanya padanya.
            "Apa sekarang kamu sudah percaya cinta?." Tanyaku
"Kamu sendiri bagaimana? Apa deskripsimu tentang cinta? Apakah tentang jantung yang berdetak dengan kencang? Apakah tentang pipi yang bersemu merah? Atau tentang kamu yang selalu tersenyum ketika melihatnya?" Katanya tegas.
            "Iya, buatku iya. Jantung yang berdetak lebih keras ketika menatap matanya. Pipi yang terasa panas jika ia berbalik menatap mataku dan aku selalu tersenyum ketika bertemu dia." Ucapku menatapnya dengan dalam dengan senyum terukir manis disudut bibirku.
            "Kamu tau? Tadinya aku juga tidak percaya cinta. Tapi aku bertemu dia, aku berpikir ini tidak mungkin, tapi ini kenyatanya. Aku jatuh cinta." Lagi, aku tersenyum padanya dengan menatap dalam padanya berusaha menyampaikan apa yang aku rasakan.
            "Aku tidak tahu dengan pengertian cinta. Buatku, cinta itu cuma rasa nyaman. Karena aku juga sama denganmu, aku sedang jatuh cinta. Tanpa sadar perasaan ini datang tanpa bisa  aku cegah. Dan aku menyukainya." Ucap dia dengan mantap, dan mata kami saling berpandangan dengan waktu yang lama dan hadirlah sebuah senyuman di bibir kami.
            Sejak hari itu, kami selalu bersama-sama. Entah hanya sekedar untuk menghabiskan waktu bersama di toko buku, atau hanya sekedar mengobrol soal kegiatan sehari-hari. Ia adalah seseorang yang menyenangkan.
* 
            Aku lari tergesa-gesa mengejar waktu untuk mencari seseorang yang sekarang ada di dalam hari-hariku, yang selalu hadir dimana saja. Aku melihatnya, ya aku melihatnya sedang berdiri menyandar di tembok penyangga. Aku berlari menuju orang itu.
"Kau tau? Aku sudah menemukan arti dari apa itu cinta dan sekarang aku tahu, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Katya."
"Terima kasih telah mencintaiku, Evan." Kataku dengan lantang.
Ya, aku beruntung. Karena sekarang aku tau apa makna dari cinta. Aku tak perlu bertanya lagi pada Vito, karena sekarang aku akan mencari jawaban atas pertanyaanku ini. Apakah kalian terkejut mengetahuinya? 
Selamat memasuki kisah cintaku yang penuh analogi ini.
Share:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Designed by OddThemes

About Author

I'm Susanna, I blog about travel.

This season, the American designer will showcase a series of historic objects from the New York museum's.

Stay Connected

Popular Posts

  • Seandainya Menjadi Wartawan Media Online
  • Trip Semarang-Jogja!
  • Untitled
  • Menuju 21
  • Si Manusia Rela Itu Bernama...
  • 6 Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi Kalau Lagi ke Semarang
  • Analogi Katya
  • dijamin Segar, Pilih Lalu Potong di Tempat
  • Terjebak di 4.30 PM
  • Aku Tidak Ingin Mati Sendiri
Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
Savira Tavana Dewi
Lihat profil lengkapku

Terjebak di 4.30 PM

Sepertinya hari ini bumi sedang bersedih. Sejak pagi, matahari terus saja bersembunyi di balik awan gelap dan tetesan air hujan senanti...

Total Tayangan Halaman

Footer Menu Widget

  • Home
  • About Us
  • Contact Us
  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _Shortcodes
  • _Sitemap
  • _Error Page
  • Documentation
  • _Web Doc
  • _Video Doc
  • Download This Template

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2022 (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  April (1)
  • ▼  2018 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Analogi Katya
  • ►  2017 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (1)
  • Beranda

Subscribe Us

Most Popular

September 19, 2016

Seandainya Menjadi Wartawan Media Online

September 24, 2017

Trip Semarang-Jogja!

April 23, 2019

Untitled